Power

Power
Tujuan pembuatan blog "Gogeneration" ini adalah sebagai sarana untuk berbagi ilmu pengetahuan dan mencerdaskan anak bangsa, dengan mengumpulkan tutorial dan artikel yang terserak di dunia maya maupun di literature-literature yang ada. Semoga dengan hadirnya blog "Gogeneration" ini dapat membawa manfaat bagi kita semua. dan saya ingin sharing tentang power plant dan substation khususnya di electrical, mechanical , automation, scada. walaupun sudah lebih dari sepuluh tahun menggeluti dunia itu tapi masih banyak hal yang harus dipelajari. dengan blog ini saya berharap bisa saling sharing, Blog ini didedikasikan kepada siapa pun yang mencintai ilmu pengetahuan

usn.wnd@gmail.com

Minggu, 29 Januari 2012

kuat arus listrik


PUANG TABA DAN SELETING JAUHPDF


      Namanya Puang Taba. Badannya  kecil tetapi “kassa” (kuat), kulitnya hitam, hidupnya hampir 24 jam di kantor, dia kaya, sepuluh jari tangannya memakai cincin emas, lehernya memakai kalung emas, entah berapa gram (pokoknya kalungnya besar seperti rantai). Dia lincah dalam memanjat tiang listrik khususnya Tegangan Rendah (TR), bekerja di TR tidak perlu dipadamkan karena memegang strom menjadi kebiasaannya setiap hari. Semua pelanggan PLN di daerah Utara kota mengenalnya, para pemilik toko di  jalan Sulawesi ,  jalan Nusantara dan sekitarnya mengenalnya. Setiap gangguan listrik di toko atau rumah mereka akan diselesaikan oleh beliau.

Catatan Adabuddin



      Namanya Puang Taba. Badannya  kecil tetapi “kassa” (kuat), kulitnya hitam, hidupnya hampir 24 jam di kantor, dia kaya, sepuluh jari tangannya memakai cincin emas, lehernya memakai kalung emas, entah berapa gram (pokoknya kalungnya besar seperti rantai). Dia lincah dalam memanjat tiang listrik khususnya Tegangan Rendah (TR), bekerja di TR tidak perlu dipadamkan karena memegang strom menjadi kebiasaannya setiap hari. Semua pelanggan PLN di daerah Utara kota mengenalnya, para pemilik toko di  jalan Sulawesi ,  jalan Nusantara dan sekitarnya mengenalnya. Setiap gangguan listrik di toko atau rumah mereka akan diselesaikan oleh beliau.
      Pada waktu saya diberi kepercayaan menjadi Kepala Seksi TR Utara (oraganisasi PLN dahulu sangat “technical oriented”, semoga istilah saya ini benar), beliau berada di bawah saya. Dari teman-teman PLN Cabang Makassar saya mengenal beberapa istilah baru, misalnya “tedel”, kawat beradu, dan “seleting jauh”. Khusus “seleting jauh” saya dengar pertama dari Puang Taba. Waktu itu ada laporan di daerah Mariso bahwa ada beberapa rumah padam listriknya yang berada di ujung JTR (Jaringan Tegangan Rendah). Dengan spontan Puang Taba yang duduk di kursi Pos Dinas Gangguan (namanya sekarang Pelayanan Teknik ?) nyelutuk bahwa pasti terjadi seleting jauh. Apa itu seleting jauh membuat saya penasaran sehingga sayapun ikut ke lapangan untuk melihat peristiwa apa gerangan yang terjadi. Benar saja, di ujung jaringan terjadi “kawat beradu” sehingga terjadi “seleting jauh”. Seleting jauh tidak membuat zekering di Gardu putus, mengapa ?.
       Teman-teman Outsourcing pp Distribusi ! Mari kita membahas masalah ini sekarang. Oh ya, saya jelaskan dahulu; seleting berasala dari kata korsluiting (bahasa Belanda?) yang sekarang lebih populer dengan istilahhubung singkat (kalau “kawat beradu” satu sama lain) dan Hubung tanah (kalau kawat terkena tanah lewat pohon atau media lainnya). Hubung singkat membuat relay overcurrent  bekerja dan hubung tanah membuat relay  ground fault atau earth fault  bekerja.
Hukum Ohm.
Kita mulai dahulu dengan Hukum Ohm (ini ilmu dasar lho). George Simon Ohm (1826, sudah lama sekali yah) menemukan hubungan antara arus dan tegangan yang kita kenal sekarang dengan Hukum Ohm, bunyinya begini :

Katanya sih kalimat yang panjang di atas bisa dituliskan begini : 
I ≈ V  atau arus I sebanding dengan tegangan V. Artinya bisa juga ditulis bahwa arus I = (…) x V
(…) adalah sesuatu yang kemudian kita kenal sebagai “hantaran” sedang hantaran berbanding terbalik dengan “hambatan”. Dipendekkan sajalah ceritanya :
I  =  G. V, sedang  G =  1/R. Jadi kalau begitu bisa juga ditulis menjadi  I = (1/R) x V = V/R. Inilah rumus kita sekarang yang kita kenal sebagai rumus hukum Ohm. Kita tulis kembali:
Kalau rumus ini diputar-putar maka didapat juga  V = I x R dan R = V/I.
 Mudah-mudahan terlihat dari rumus di atas bahwa ternyata arus listrik itu dihalang-halangi oleh hambatan R. Jadi kalau R nya besar, maka arus listriknya mengecil. Oh yah, R yang kita kenal tadi sebagai hambatan berasal dari kata Resisitance dan diberi satuan dengan Ohm, biasa juga ditulis dengan lambang omega (Ω).
Tibalah saatnya kita lihat apa saja yang mempengaruhi R (tetapi ingat bahwa suhu kita tidak masukkan sebagaimana bunyi hukum Ohm di depan). R itu dipengaruhi oleh 1. Bahan penghantar, 2. Panjang penghantar, dan 3. Luas penampang penghantar.
Dari hal-hal yang mempengaruhi itu, R dirumuskan sebagai berikut:
R   adalah Hambatan dalam Ohm.
ρ  (dibaca rho) adalah hambatan jenis dalam Ohm.mm2/m  (lupakan saja satuan ini, terlalu    panjang).
I    panjang penghantar dalam satuan meter.
S   luas penampang penghantar dalam satuan mm2.

Dari Rumus ini kita bisa katakan bahwa ;
1.      Makin bagus bahan penghantar (misalnya tembaga lebih bagus dari aluminium) R nya akan makin kecil (masih perlu rincian). Demikian juga sebaliknya.
2.      Makin pendek penghantar, R akan makin kecil, sebaliknya makin panjang penghantar akan semakin besar R nya.
3.      Makin besar luas penampang (kawat makin besar), akan semakin kecil Rnya. Demikian juga sebaliknya.
Mari kita lihat butir 2 sehubungan dengan judul tulisan kita kali ini. Seleting jauh, berarti terjadi hubung singkat yang jauh dari Gardu. Arus hubung singkat yang mengalir tidak terlalu besar karena penghantar panjang atau R nya besar, sehingga zekering di Gardu tidak putus.
Coba kita membuat gambar 2 kawat (1 phasa) :
Gambar :   1, 2, 3, 4. adalah Beban.  Beban 1 dan 2 dekat dari sumber. Beban 3 dan 4 jauh dari  sumber. Beban 3 terletak sebelum titik “seleting jauh” dan beban 4 setelah titik “seleting jauh”.
Cerita ini akan berakhir bahwa arus yang mengalir karena seleting jauh lebih kecil dari arus pengaman di zekering sehingga zekering tidak putus. Distribusi tegangan adalah beban 4 padam (tegangan Nol), beban 3 sangat redup, beban 2 dan 3 redup, mungkin beban 2 lumayan bagus. Kalau kita gambar distribusi tegangannya di setiap titik mungkin kelihatannya makin jauh makin rendah seperti di bawah ini.
 
Gambar :   Garis miring itu adalah besarnya tegangan, makin ke titik “seleting jauh” makin kecil dan tegangan menjadi Nol mulai dari titik “seleting jauh” sampai ujung jaring.
Ada satu masalah yaitu mengapa pada JTM yang kita awasi ini “seleting jauh”nya (bahkan sampai beratus kilometer) tetap terlihat oleh relay overcurrent dan ground fault di GI ?. Dari cerita nyata tentang Puang Taba ini ternyata seleting jauh antara TR dan TM agak berbeda, kenapa yah ? . Okelah, tulisan kali ini kita akhiri dahulu sampai di sini, dengan sedikit penasaran. Lain kali kita lihat masalah seleting jauh di TM.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar